" Bu.. Ibu kenapa?" terdengar isak tangis seorang pria kecil di samping ibunya yang sedang terbaring.
" uhuk..uhuk... ibu tidak apa-apa nak." jawab Wanita tua yang sedang terbaring dan sulit bernafas.
" Ibu sakit? Toni harus gimana Bu? Toni takut Bu. jangan tinggalin Toni." ujar pria kecil yang bernama Toni. air mata tak henti-hentinya keluar dari mata pria kecil itu. sedangakan di sudut ruangan yang pantas di bilang gubuk itu terlihat gadis kecil dengan baju kumalnya sedang memeluk lututnya sambil menangis. perasaan bingung kini terus menghantui Toni.
" Kak Nisa lapar. Nisa ingin makan." ujar gadis kecil yang berada di sudut gubug. Toni pun langsung menghampiri adiknya dan memeluk tubuh Nisa yang begitu kurus lengkap dengan kaus kumalnya.
" iya sebentar Nisa. nanti kakak beliin makanan buat kamu dan obat buat ibu." ujar Toni menenangkan adiknya.
sejenak Toni pun menatap Biola kesayangannya pemberian Ayahnya yang sudah lama meninggalkan mereka dan memilih wanita lain.
" jangan jual biola mu itu Ton." terdengar suara wanita tua terbata-bata.
tanpa menjawab Toni pun langsung pergi dan membawa biolanya.
Di bawah rintik hujan toni berdoa pada Tuhan.
" Tuhan berikan aku petunjuk agar aku bisa mendapatkan uang untuk makan keluargaku." hanya itu doa Toni. doa sederhana dari seorang anak yang harus menanggung beban keluarganya.
Di bawah pohon beringin di tengah kota yang ramai dengan kemewahan orang-orang borjuis Toni memainkan biolanya. dan perlahan ia memulai sebuah lagu. terdengar sangat indah gesekan biola Toni. meskipun biola tua namun terdengar sangat indah di mainkan oleh Toni. dan seorang lelaki tua pun menghampiri Toni dan duduk di sebelahnya. terlihat seperti orang berada kakek tua itu. kakek tua itu menikmati dan menghayati setiap gesekan biola Toni. saat Toni membuka matanya ia terkejut dengan keberadaan kakek itu.
" maaf kakek siapa?" tanya Toni keheranan karena kakek tua itu memberikan tepuk tangan saat Toni mengakhiri lagu ke2-nya.
" permainan biola kamu bagus. mengingatkan saya pada masa muda saya." ujar kakek tua itu dan membuat Toni semakin kebingungan.
" anak muda mengapa kamu berdiam di bawah pohon ini?"lanjut kakek tua itu.
"saya bingung mau kemana. saya sedih diam di rumah." jawab Toni dan ia menundukan kepalanya. terlihat mulai mata Toni berkaca-kaca.
" memangnya kenapa? coba kamu cerita pada kakek."
" ibu saya sedang sakit dan adik saya terus merengek kelaparan. sementara saya tidak mempunyai uang untuk itu." tutur Toni dengan tangis yang kembali pecah.
" malang sekali nasibmu nak. ambillah uang ini." ujar kakek tua itu sambil menyerahkan uang seratus ribu kepada Toni.
" oh terimakasih kek. tapi saya tidak mau menerimanya. maaf" jawab Toni dengan menolak secara halus.
" mengapa? bukankah kamu membutuhkannya?" tanya kakek tua itu.
" saya tidak melakukan apa-apa untuk kakek, dan pula saya sedang tidak ngamen."
" ambillah. tadi saya merasa terhibur dengan permainan biola kamu. kamu sudah menghibur saya." jawab kakek tua itu. dengan memberikan uang seratus ribu. dan Toni pun menerima uangnya. memang ia kini sedang membutuhkannya.
" terima kasih banyak kakek. uang ini sangat bermanfaat." ujar Toni. kakek itu pun berlalu dan kembali ke mobilnya..
Bersambung...
males bacanyaaaa . haha.
BalasHapusudah aku follow nih, follow back yaa cuy . :)
siap buuu... gak usah di baca,,pelong wew..hehehe...
BalasHapusmakasih ya...
iya udah ini juga udah dipelong . haha
BalasHapusiya sama-sama. :)