Malam itu di depan Tugu Jogja aku utarakan semua apa yang aku pendam selama bertaun-taun ini.
“ Gen gua ngerasa jadi orang bodoh selama bertahun-tahun.” Ujarku memulai pembicaraan di tepi jalanan Jogja di depan Tugu.
“ maksud loe? Udah lah Laras gak usah bahas orang itu lagi.” Jawab Gena yang langsung menyagka aku sedang mebicarakan Rian mantan ku yang sudah mengkhianati ku. Selama bertahun-tahun menjalin hubungan bareng Rian dan ternyata Rian lebih memilih wanita itu.
“ najis deh gua mikirin orang bodoh yang udah nyia-nyian seorang Laras.” Dan tawapun pecah di anatara kami. Di temani lampu kota kami terus mengobrol dengan sesekali tawa menghiasi kami.
“ terus apa dong yang buat loe ngerasa bodoh?” tanya Gena.
“ gua ngerasa bodoh,pengecut.”
“ maksud loe?” tanya Gena bingung. Aku pun menarik nafas dalam-dalam mengumpulkan tenaga untuk bisa bicara lebih lanjut.
“ gua ngerasa bodoh karena selama bertahun-tahun ini gua mikirin someone. Jujur hidup gua jadi terbebani sama perasaan gua ke orang itu.” Tutur ku.
“ dan loe jadi pengecut karena loe gak bisa bilang sama itu orang tentang perasaan loe?”
“ yap. Dan gua selalu ngerasa cemburu setiap kali itu orang punya cewe.” Lanjutku. Dan sesaat tidak ada pembicaraan di antara kami hanya suara riuh orang-orang di sekitar Tugu yang sedang sibuk memotret.
“ emang seberapa besar perasaan loe sama orang itu.” Tanya Gena dan mulai ada lagi pembicaraan di antara kami.
“ ya gua gak bisa ngukurnya. Tapi dari semua pembicaraan gua tadi pasti loe bisa nagkep gimana perasaan gua ke orang itu.” Tutur ku. Dan Gena hanya mengangguk kecil. Dan ia pun menatap ku sambil tersenyum.
“ oke kalau gitu tunggu apalagi sekarang kan loe single.” Ujar Gena.
“ tapi masih ada beban yang gua pikirin Gen.” Ujar ku. Aku pun sejenak menatap langit Jogja yang malam itu di penuhi bintang-bintang. Dan berharap malam ini adalah malam indah buatku.
“ gua tau apa yang jadi beban loe sekarang. Loe takut orang itu gak nerima loe kan.?” Tanya Gena. Aku tak menjawab masih tetap menatap langit.
“ hah klasik. Mau kapan loe maju? Mau sampai kapan loe mencap diri loe bodoh dan pengecut?” Ujar Gena dengan nada yang mulai meninggi.
“ loh kok loe jadi emosi kaya gitu Gen?” tanya ku yang kebingungan dengan sikap Gena yang tiba-tiba berubah.
“ sorry Ras gua jadi ke bawa emosi. Gara-gara kebodohan loe sih gua jadi greget.” Ujar Gena sambil mencubit pipiku.
“ jadi menurut loe sekarang sebaiknya gua bilang aja? Apa pun jawaban orang itu?”
“ iya loe harus bisa mempertanggung jawabkan perasaan loe. Loe gak akan tau isi goa yang dari luar kaliatan gelap dan menyeramkan siapa tau di dalamnya ada sungai atau semua keindahan yang tersimpan di dalam goa itu.” Tutur Gena yang mebuatku berfikir akan mengutarakan perasaanku.
“ jadi intinya?” tanyaku
“ jadi intinya loe gak akan tau apa yang akan terjadi sebelum loe nyoba. Anak Tk juga tau kali tentang ini mah.”
Aku pun beranjak dari tempat duduk ku tadi dan menarik tangan Gena berlari menuju ke tengah Tugu.
“eh hati-hati loe pengen jatoh apa?” hardik Gena.
“ oke sekarang gua ikutin semua saran loe tadi.” Ujarku dan spontan mebuat Gena terkejut.
“ maksud loe?” tanya Gena. Aku pun menarik nafas dalam-dalam dan mengadah ke langit menyiapkan semua energi yang ada di dalam diriku,memohon dukungan dari bintang-bintang malam ini.
“fiuh.. oke. Gena selama beberapa tahun ini tanpa loe sadari gua kagum sama loe. Gua punya perasaan lebih sama loe. Mungkin loe pikir ini becanda. Tapi orang yang buat gua ngerasa bodoh dan pengecut itu loe Gena.” Tuturku. Sebenarnya hati sangat takut.
“ maksud loe? Orang yang dari tadi kita omongin itu gua?” tanya Gena.
“ yup.. he is you Gena. “
“ ah.. becanda loe.”
“ gak. It’s you!” tegas ku. Gena pun terdiam dan menatapku dalam-dalam.
“ Gen sorry. Bukan maksud gua. Sorry. Lupain aja gua pernah bilang kaya gitu sama loe. Anggap gua gak pernah bilang. Never.” Ujarku dan aku pun pergi meninggalkan Gena. Namun terasa tangan Gena menahanku. Sambil melihat ke bawah entah apa maksudnya Gena berkata.
“ kita gak akan pernah tau apa yang ada di dalam goa itu sebelum kita mencoba untuk masuk. Mungkin saja ada keindahan tersimpan di dalam goa itu.” Tutur Gena yang kini mebuat ku terdiam kebingungan.
“ maksud loe?”
“ di ibaratkan hati dan cinta loe itu goa. Gua gak tau gimana hati dan cinta loe karena gua belom pernah nyoba untuk masuk ke dalam hati dan cinta loe.”
“ maksud loe? “ tanya ku lagi yang semakin kebingungan.
“ begooo loe. Iya gua gak mau Cuma jadi orang yang ngeliatin hati dan cinta loe doang gua juga pengen masuk ke dalam hati dan cinta loe. Dan gua tau gimana keindahan hati dan cinta loe setelah gua memasuki hati loe.” Tutur Gena yang membuat senyuman di wajahku. Aku tau aku tau maksud Gena.
“ oh Tuhan Thanks.” Ujar ku,Gena hanya tersenyum melihatku dan ia menggemgam tanganku.
“ you are stupid.” Ujarku lagi pada Gena. Lalu Gena mengajakku berlari di jalanan Jogja yang kini mulai kosong karena sudah pukul 2 dini hari.
Malam yang indah...
Laras & Gena